by

Masak Saya Kalah Dari Mereka

-Opini-77 views

Mungkin banyak orang yang bertanya apa maksud dari judul artikel ini “Masak Saya Kalah Dari Mereka”. Sebenarnya ini adalah artikel yang bertujuan untuk memotivasi kita semua, bahwa banyak orang yang memiliki keterbatasan lebih besar daripada keterbatasan kita sendiri, malah mereka lebih mampu menggapai keberhasilan di dunia. Hal ini merupakan sebuah cambuk bagi kita, yang mungkin mempunyai fisik yang lebih lengkap, pendidikan yang lebih tinggi, atau pun hidup yang lebih berkecukupan dari orang tersebut.

Masak Saya Kalah Dari Mereka
Masak Saya Kalah Dari Mereka

Jalan satu-satunya adalah introspeksi diri, mencari tahu apa sebenarnya yang salah dengan hidup kita? Bagaimana mungkin seseorang yang nasibnya jauh lebih tidak beruntung daripada kita, dapat menggapai keberhasilan yang kita sendiri sulit untuk menggapainya. Padahal jika menggunakan nalar dan logika, harusnya kita yang lebih berhasil daripada mereka.

Anda yang suka berbisnis online atau berkecimpung di dunia online pasti sudah pernah mendengar tentang Mr. X kan? Nama-nama dalam tokoh ini akan sengaja saya samarkan. Ya, Mr. X yang notabene adalah seorang kuli (buruh) angkat-angkat mempunyai gaji yang sangat tinggi dari penghasilannya membuat game dan di upload ke internet. Bahkan gajinyapun mungkin jauh lebih tinggi dari gaji karyawan di sebuah perusahaan.

Lalu pernahkan anda berpikir? Seorang kuli bisa membuat game dan berhasil mendapatkan penghasilan yang lumayan besar? Tentu kalau mau mengambil hikmah, anak-anak IT yang mungkin lulusan dari Universitas ternama harusnya sadar dan segera “bangun” jika kehidupan mereka tidak lebih baik dari “Seorang kuli”. Hal ini harus diterima untuk diambil pelajarannya, mau tidak mau, diakui atau tidak bahkan dari segi pendidikan harusnya “Seorang kuli” tidak sampai menempuh pendidikan sarjana. Disini saya bukan mau menghina profesi “Seorang kuli”, malah bangga dengan mereka, dengan keterbatasan mereka sanggup meraih keberhasilan yang mungkin banyak orang akan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil diraih dengan kondisi tersebut. Dan hal ini harusnya juga menjadi tolak ukur terutama bagi mereka yang alumni atau lulusan Universitas ternama di negeri ini.

Saya juga ingin menggaris bawahi perjuangan seorang Blogger yang hidupnya kekurangan, bahkan lulus SMApun tidak, namun karena kegigihan mereka, keuletan dan ketekunan mereka, keberhasilan mereka meraih pendapatan dari dunia blogging dan bisnis online pun sangat menjanjikan (bisa dibilang besar), dan lagi-lagi ini adalah sebuah catatan yang harus digaris bawahi bila perlu kita beri warna agar menempel di otak kita (yang mungkin sering terlena dengan keadaan). Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah sesuai judul “Masak kita kalah dari mereka?”, itu merupakan pertanyaan lazim yang harusnya ditanyakan oleh orang-orang yang berpikiran positif.

Kalau orang berpikiran negatif pasti mencari-cari alasan kenapa mereka tidak berhasil daripada harus mengevaluasi dan mengintrospeksi diri. Mungkin saja mereka akan berkata “Itu kan takdir kalau mereka bisa berhasil” atau “Nasib mereka saja yang bagus sedangkan aku tidak”. Nah, pada orang yang demikian itu, saya akan bertanya kepada mereka, ketika sama-sama dilahirkan apakah mereka membawa sesuatu? Tentu tidak. Kalau mati, apa mereka juga akan membawa sesuatu? Tentu jawabnya juga tidak.

Semua orang dilahirkan dengan kondisi yang sama dengan tidak membawa apa-apa. Pernahkan anda melihat ada bayi yang lahir membawa sebongkah emas untuk biaya hidup mereka ketika sudah besar nanti? Pasti tidak. Namun jika orang mati pasti ada yang ditinggalkan, entah itu dari materi, jasa, kebaikannya atau hal lainnya. Ditengah-tengah hidup dan mati itulah ada yang dinamakan proses. Disitulah letak kunci kita bisa menjadi orang yang dikatakan berhasil atau tidak, dan yang menentukan bukanlah orang lain, tetapi diri kita sendiri. Bahkan Tuhanpun memberi penjelasan bahwa “Tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”. Jadi?….

Tidak ada alasan lagi bagi kita kenapa orang lain bisa lebih berhasil daripada kita, padahal mereka mungkin nasibnya tidak seberuntung kita. Inilah yang harus menjadi catatan diri, untuk apa kita hidup, ingin menjadi apa kita hidup, semua adalah sebuah proses dan kita sendiri yang menentukan. Tuhan memberikan kita buku dan pena (takdir) untuk menulis, namun kitalah yang menentukan ingin menjadi seperti apa tulisan itu (nasib). Jadi apa yang akan anda lakukan saat ini, hal itulah yang akan menentukan nasib anda kedepannya. Hehe, tidak menyangka saya bisa menulis artikel seperti ini, yang mungkin akan berguna bagi kawan-kawan semua diluar sana (semoga bisa evaluasi dan introspeksi diri). Terima kasih karena sudah membaca dan semoga bermanfaat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *